Angklung Diatonis Daeng SoetignaFriday, March 05, 2010 Administrator 
Angklung diatonis pertama kali dikreasi oleh Daeng Soetigna, orang Bugis kelahiran Garut (1908). Angklung diatonis merupakan cikal-bakal angklung modern yang terdiri dari 8 tangga nada (do-re-mi-fa-so-la-si-do). Angklung yang dikreasi Daeng adalah jenis angklung buncis, yang biasa dimainkan urang Garut.
Konon, kisahnya bermula ketika dua orang pengamen menyambangi rumah Daeng Sutigna. Kedua pengamen itu memainkan angklung zaman kiwari yang bernada pentatonis. Permainan angklung mereka membuat Daeng tergetar. Lantas ia pun membeli kedua angklung itu. Setelah angklung tersebut berada di tangannya, ia pun berangan-angan bagaimana bisa menggubah angklung pentatonis menjadi diatonis.
Namun masalahnya, Daeng tidak dapat membuat angklung. Karena itu ia kemudian berguru pada Ki Djaya, seorang pakar pembuat angklung kesohor. Singkat cerita, setelah paham seluk-beluk membuat angklung Kang Daeng mulai bereksperimen membuat angklung diatonis. Pada tahun 1938 Daeng Soetigna berhasil membuat satu set angklung bertangga nada diatonis.
Setelah keberhasilannya membuat angklung diatonis, Daeng kemudian pindah ke kota Kuningan dan bekerja sebagai guru SMP. Di kota ini ia memperke-nalkan angklung diatonis ke anak-anak pramuka asuhannya. Pada mulanya permainan angklung masih ditentang untuk diajarkan di sekolah, tetapi akhirnya dapat diterima dan lalu bisa diajarkan di sekolah. Setelah Daeng pindah ke Bandung, permainan angklung hasil kreasinya makin dikenal masyarakat luas.
Pada tanggal 11 November 1946, Presiden Soekarno meminta Daeng Soetigna memainkan angklung diatonisnya di hadapan para peserta perundingan Linggajati. Dan pada acara Konferensi Asia-Afrika (1955) di Gedung Merdeka Bandung, Kang Daeng unjuk kabisan menggelar konser angklung kreasinya di hadapan tamu-tamu negara. Mereka begitu terpukau menyaksikan permainan rampag dari angklung diatonis Daeng Soetigna.
Dalam kesempatan itu, Kang Daeng memainkan lagu klasik An der schonen blauen Donau, karya Johan Strauss, dengan angklung diatonisnya. Angklung diatonis kreasi Daeng terbukti dapat dipadukan dengan alat-alat musik modern Barat.
Daeng Soetigna wafat pada tanggal 8 April 1984. Sepeninggalnya, estafet angklung diatonis diteruskan dan disempurnakan Mang Udjo, seorang empu angklung dari desa Padasuka, Bandung. Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Kini barudak mancanegara, seperti Jepang, Korea, Inggris, Jerman, Amerika, Cina, Turki, dan Australia berbondong-bondong datang ke kampung angklung Padasuka untuk belajar memainkan angklung dan mendalami alat musik ini. (Dj-oko http://ger-gaji.co.nr)** |