Jakarta Bogor Makassar MISP MEIC YPMI HOME
 
   
 
English
 
 
 
 
Angklung Buncis
Thursday, February 25, 2010     Administrator

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa seka-rang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama.
Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai tahun berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi hiburan. Sejalan dengan itu tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) menghilang dari rumah penduduk, diganti dengan karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panem-bal, dan badublag. Dalam perkem-bangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong.
Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.
Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Badud (Priangan Timur/Ciamis),  Bungko (Indramayu), Gubrag (Bogor), Ciusul (Banten), Dog dog Lojor (Sukabumi), Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng.
Angklung Padaeng identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmi-sasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu dari daerah lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan di sekolah dan dimainkan dalam orkestra besar. (Dj-oko http://ger-gaji.co.nr)

 
 
Our Partners :
Global Compact
 
  Copyright © Madania 2010 All Rights Reserved