Jakarta Bogor Makassar MISP MEIC YPMI HOME
 
   
 
English
 
 
 
 
Dukung Angklung Jadi Warisan Budaya Dunia (2)
Friday, February 12, 2010     Administrator

Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar).
Meski demikian, angklung masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan baru dimainkan lagi pada musim tanam berikutnya. Acara menutup angklung disebut musung-keun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.
Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileu-leuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, dan sebagainya.

 
 
Our Partners :
Global Compact
 
  Copyright © Madania 2010 All Rights Reserved